Hello...!!! The Power Of Putih Abu-abu SMA Negeri 1 Matur Kab. Agam Sumatera Barat yang semakin keren, blog ini di publikasikan untuk browser terutama para siswa SMAN 1 matur dan juga para alumni, semoga dengan adanya blog ini, semakin eratnya tali silaturahmi antara kita semua. Saran dan kritik kami harapkan untuk kesempurnaan blog kami ini (lihat menu Redaksi).....
twitter facebook google plus linkedin rss feed email

Selamat Datang......

Selamat Datang di Blog OSIS SMAN 1 Matur Kabupaten Agam

Kegiatan Classmeeting

Kegiatan Ramadhan 2012 Lomba Takbiran (Juara 1 XII IPA 2)

Pesta Demokrasi Calon Ketua OSIS

Penghitungan suara setelah melakukan pemilihan suara untuk Ketua Osis

Kepala Sekolah dan Pengurus Komite

Rapat Paripurna Komite TP 2012/2013 dengan Orang Tua Siswa

Mengikuti Pelatihan

Salah Seorang Guru SMAN 1 Matur Mengikuti Pelatihan PAS

Rapat Paripurna Komite TP 2012/2013

Sambutan dari Kepala Sekolah Ali Asmi, S.Pd, M.Pd.

Pasca MOPD 2012/2013

Foto Bersama Mantan Personil Osis 2011/2012

Tampilkan postingan dengan label Mading. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mading. Tampilkan semua postingan

4 Okt 2012

Puisi Karya Taufik Ismail

KITA ADALAH PEMILIK SANG REPUBLIK INI
 (1966)


Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus

Karena berhenti atau mundur

Berarti hanyut

Apakah akan kita jual keyakinan kita

Dalam pengabdian tanpa harga

Akan maukah kita duduk satu meja

Dengan para pembunuh tahun yang lalu

Dalam setiap kalimat yang berakhiran:
“Duli Tuanku”?
Tidak ada lagi pilihan lain. Kita harus
Berjalan terus
Kita adalah manusia bermata sayu, yang ditepi jalan
Mengacungkan [...]



SERATUS JUTA
(1998)

Umat miskin dan penganggur berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Di tengah mereka tak tahu akan berbuat apa
Kini kutundukkan kepala, karena
Ada sesuatu besar luar biasa
Hilang terasa dari rongga dada
Saudaraku yang sirna nafkah, tanpa kerja
berdiri hari ini
Seratus juta banyaknya
Kita mesti berbuat sesuatu, betapun sukarnya.


Tentang Taufik Ismail

Taufiq  Ismail lahir di Bikittinggi, Sumatera Barat pada tahun 1935. Beliau merupakan budayawan dan sastrawan yang sangat populer . Beragam penghargaan telah diperolehnya, baik tingkat nasional maupun  tingkat internasional. Ia telah melahirkan banyak karya seperti puisi, essai  sastra, karya terjemahan, dan lain lain. Namanya pantas disejajarkan dengan budayawan seperti Emha Ainun Najib dan Chairil Anwar.



Masa kecil Taufiq Ismail lebih banyak dihabiskan di Pekalongan. Ia pertama masuk sekolah rakyat di Solo, lalu pindah ke Semarang, Salatiga dan menamatkan sekolah rakyatnya di Yogyakarta. Ia melanjutkan SMP di bukit tinggi dan SMA di  Bogor. Selesai SMA, ia mendapatkan beasiswa American Field International School untuk bersekolah di Whitefish Bay High School di Milwaukee, Wisconsin, AS. Ia merupakan angkatan pertama dari Indonesia. Kemudian ia melanjutkan sekolah di di Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan UI yang sekarang menjadi IPB. Setelah tamat ia mengikuti , International Writing Program, University of Jowa, Iowa City, Amreika Serikat. Ia juga belajar di Faculty of Languange and Literature, American University in Cairo, Mesir. Namun karena pecah perang, maka ia pulang sebelum studinya selesai.



Taufiq Ismail bermimpi menjadi seorang sastrawan saat masih SMA. Saat itu ia mulai menulis beberapa puisi yang mulai dimuat di majalah majalah. Ia dibesarkan di lingkungan keluarga yang suka membaca, sehinga ia  mulai suka membaca sjak kecil Hobinya membaca semakin terpuaskan sejak ia menjadi penjaga perpustakaan di perpustakaan Pelajar Islam Indonesia Pekalongan.



Minatnya dalam dunia sasta mulai tumbuh sasat ia sekolah di SMA Whitefish Bay di Milwaukee, Wisconsin, AS berkat program beasiswa pertukaran pelajar. Di sana, ia mulai mengenal karya sastra asing.

Taufiq Ismail bersama sastrawan sstrawan lainnya berhasil mengenalkan sastra ke sekolah-sekolah dengan program “Siswa Bertanya, Sastrawan Menjawab’. Program itu disponsori oleh Yayasan Indonesia dan Ford Foundation.

Karya Taufiq Ismail diantaranya ialah buku kumpulan puisi yang salah satunya berjudul Manifestasi (1963; bersama Goenawan Mohamad, Hartojo Andangjaya, et.al) juga Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia, Yayasan Ananda (1998).

Ia juga sempat meraih penghargaan, yaitu American Field Service International Scholarship untuk mengikuti Whitefish Bay High School di Milwaukee, Amerika Serikat dan Anugerah Seni Pemerintah RI pada 1970; dan – SEA Write Award (1997).


29 Sep 2012

Wisata Puncak Lawang


Banyak yang tidak tahu bahwa Nagari Lawang juga memiki daerah untuk wisatawan. Nagari Lawang terletak di Kecamatan Matur Kabupaten Agam Sumatera Barat.  Kabupaten Agam ini terdiri dari 16 Kecamatan salah satunya yaitu Kecamatan Matur. disinilah letak Wilayah Nagari Lawang. yang dikepalai oleh seorang Wali Nagari. berdasarkan peta geografis Nagari Lawang dengan luas lebih kurang 1.669 hektar yang dihuni oleh sekitar 3.837 jiwa penduduk atau lebih kurang 1.037 kepala keluarga. untuk menempuh Lawang lebih kurang 25 Kilo meter dari Kota Bukittinggi. dengan perbatasan wilayahnya adalah :
  • Sebelah Barat Berbatasan dengan Nagari Matur Hilir
  • Sebelah Timur dengan Maninjau (Kecamatan Tanjung Raya)
  • Sebalah Utara dengan Nagari Matur Mudik dan
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Nagari Tigo Balai

Di Nagari Lawang tersebut terdiri 6 Jorong :
1. Jorong Ketaping
2. Jorong Batu Basa
3. Jorong Lawang Tuo
4. Jorong Gajah Mati
5. Jorong Buayan
6. Jorong Pabatuangan

Puncak Lawang dengan ketinggian 1.210 m dari permukaan laut kita dapat menikmati keindahan kawasan Danau Maninjau dan Samudra Indonesia. Tidak heran, tempat ini sejak zaman penjajahan Belanda sudah menjadi pilihan peristirahatan kaum bangsawan Belanda. dari Puncak Lawang kita dapat nikmati pandangan yang memukau, birunya langit yang berpadu dengan birunya laut. Bahkan karena kekagumannya, Presiden RI pertama Soekarno pun juga pernah membuat puisi mengenai keindahan panorama Danau Maninjau itu.
Pemandangannya yang sangat dahsyat, udara yang sejuk serta seakan-akan Anda bisa menyentuh langsung awan. dibawahnya terhampar luas kawasan Danau Maninjau.
Danau Maninjau adalah sebuah danau vulkanik yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Danau dengan luas sekitar 99,5 km2 dengan kedalaman mencapai 495 meter ini merupakan danau terluas kesebelas di Indonesia, dan terluas kedua di Sumatra Barat. Menurut cerita, Danau Maninjau pada awalnya merupakan gunung berapi yang di puncaknya terdapat sebuah kawah yang luas. Oleh karena ulah manusia, gunung berapi itu meletus dan membentuk sebuah danau yang luas.
Wisatawan yang datang ke Puncak lawang bukan hanya wisatawan domestik, bahkan orang asingpun ikut berwisata di sana. Di kawasan Puncak Lawang lokasinyapun ada beberapa titik atau tempat wisata seperti puncak lawang, relay dan Lawang Park.
Keindahan Puncak lawang ini adalah pemandangan menikmati keindahan Danau Maninjau. Jika kita ingin turun menuju Danau Maninjau bisa melewati jalan utama dari Embun Pagi dan jalan kecil langsung dari puncak lawang melewati lembah dan rimba. Kalau ingin melewati Jalan Utama Kita dapat menggunakan kendaraan pribadi atau bus umum. Perjalanan ke sana akan mengharuskan kita melewati kawasan Kelok Ampek Puluah Ampek (dalam bahasa indonesia 44 tikungan). karena memang menjelang kita sampai diDanau Maninjau, kita akan melalui tikungan tajam sebanyak 44 kali. Pada tiap tikungan yang tajam itu, selalu diberi tanda penomoran sudah berapa tikungan yang kita lewati, dan semua tikungan itu berjumlah 44 buah. Menjelang sampai di bawah, kita akan menjumpai aneka macam souvenir seperti topi dari anyaman pandan, tas kampia, koleksi kalung, gelang dari tulang serta tanaman menjalar buah labu yang berkhasiat obat sekaligus dapat dijadikan penganan. 
Begitu sampai di bawah, maka anda akan disambut sebuah simpang tiga. Bila belok ke kiri, maka anda bisa pergi berkunjung ke rumah kelahiran Buya Hamka di Sungai Batang, tepatnya di Kampung Muaro Pauh. Di sebuah rumah sederhana 1908 atau 1325 Hijriah disitulah Hamka dilahirkan. Sekarang bangunan bersejarah itu telah ditempatkan sebagai museum rumah kelahiran Buya Hamka. Hanya kisah dan dokumentasi tentang Buya Hamka yang relatif lebih banyak tersedia di Maninjau. Selain dikenal luas oleh masyarakat sebagai tokoh ulama pembaru Islam, catatan sejarah Hamka juga masih tersimpan rapi di rumah bergonjong yang dibangun sebagai Museum Rumah Kelahiran Buya Hamka. Di rumah itulah tersimpan aneka foto, memorabilia, serta buku-buku buah karya Hamka, termasuk novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk. Hanif Rasyid, anak guru Hamka, yakni Buya Mansyur, sekaligus pengelola museum, juga mengetahui persis kehidupan Hamka berikut pemikiran tokoh ini. Bila belok ke kanan, anda bisa menuju Lubuk Basung, ibukota kabupaten Agam. Perjalanan menuju Puncak Lawang salah satu perjalanan wisata yang mesti kita lakukan, karena tidak hanya satu sensasi objek wisata, tetapi sensasi lainnya juga akan tercipta. Pastikan Anda ikut melakukan perjalanan ini: 

Penulis

Antoni.M 

Legenda Malin Kundang


Legenda Malin Kundang ini adalah sebuah cerita rakyat daerah kita Sumatera Barat, yang sudah banyak dilupakan ceritanya. Memang ini hanya suatu legenda fiktif, tetapi banyak pelajaran yang dapat diambil dari kisah tersebut. Kebanyakan orang hanya mengenal Batu Malin Kundangnya saja sekarang tapi kalau di tanya ceritanya banyak yang tidak tau. Untuk kali ini kami tim redaksi blog Osis SMAN 1 Matur akan menuturkan ringkasan dari sebuah kisah Legenda Malin Kundang.

Malin adalah anak yang bisa tergolong kepada anak yang cerdas tetapi agak sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Karena merasa kasihan dengan ibu kandungnya yang bekerja membanting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak.

Pada awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar.Selama berada di kapal, Malin Kundang banyak belajar tentang ilmu pelayaran pada anak buah kapal yang sudah berpengalaman.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.

Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis cantik untuk menjadi istrinya.

Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.

Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.

Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya, Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.

Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak habislah semua kesabaran ibunya, kemudian ibu Malin menyumpah anaknya "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu".

Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di sebuah pantai bernama pantai Aia Manih, di selatan kota Padang, Sumatera Barat. (Pimred)